Sering kali proses Khitan atau sunat dihubungkan dengan kewajiaban seorang pria muslim atau saat proses seseorang menjadi muslim (mualaf). Paradigman tersebut berkembang pada sekitar tahun 1980-an. Bagi Pria Muslim, hal ini merupakan bagian dari ibadah, tetapi sekarang dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, sunat tidak lagi untuk alasan ibadah agama tertentu. Dibeberapa daerah di Indonesia ada juga non Muslim yang melakukannya atas dasar tradisi, bukan berdasarkan agama. Sebagai contoh suku Jawa, mereka melakukannya atas dasar tradisi, jadi kaum pria di suku ini, meskipun tidak menganut agama Islam, mereka melakukan nya atas dasar tradisi.
Seiring dengan berkembanganya dunia kesehatan, sekarang ini banyak yang melakukannya dengan alasan kesehatan atau kebersihan. Bahkan dikalangan keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia, yang sebelumnya tertutup dan tabu akan hal ini.
Khitan atau sunat adalah proses pemotongan kulit penutup (kulup), dalam istilah medis disebut foreskin, yang menutupi gland penis pria., sehingga bagian lipatan antara kepala penis dan kulit menjadi tempat melekatanya kotoran dan juga tempat hidupnya mikroorganisme. Proses pemotongan ini bertujuan untuk mempermudah kaum pria membersihkan bagian lipatan kulit penis.
Bedasarkan survei yang saya lakukan terhadap pria non muslim, secara acak. Pada umumnya generasi 2000 -an menjalani proses sunat ini karena saran dari orang tua mereka atau rekomendasi dokter, meskipun terkadang ayah mereka tidak melakukannya. Sedangkan generasi yang lahir sebelum 2000-an, yang sudah bersunat, umumnya mereka jalani atas kesadaran sendiri dan kebanyakan dilakukan di usia dewasa.
Dari sekitar 380-an responden, hampir mendekati 50 persen pria non muslim melakukan tindakan sunat, setengahnya lagi tidak menjalani proses sunat. Meskipun tidak tepat 50 persen, namun dapat dilihat pada diagram, perbedannya sangat sedikit. Umurnya pun bervariasi, dengan range umur yang ckup lebar. mulai dari 0 tahun (beberapa hari setelah lahir, bahkan ada juga yang dilakkan beberapa saat setelah lahir), sampai umur menjelang 50 tahun. Alasannyapun berbeda-beda, mulai dari kesehatan sebagai alasan yang paling banyak banyak, kemudian diikuti oleh alasan tradisi, rekomendasi dokter atau orang tua, dan alasan-alasan lainnya.
![]() |
| Hasil Survei terhadap Pria non Muslim-dokpri |
Hal ini terjadi kemungkinan karena mulai terbukannya pengetahuan, laki-laki non Muslim terhadap kesehatan organ reproduksinya. Sementara pada tahun 1980 an, tindakan sunat ini identik dengan muslim, atau proses seseorang menjadi seorang Muslim (Mualaf)
Untuk alasan kesehatan dikaitkan dengan alasan kebersihan, karena dengan dilakkannya pemotongan kulit penutup penis, maka kaum pria akan lebih mudah membersihkannya. Alasan kesehatan ini lebih bersifat preventif, agar mengrangi resiko infeksi dari patogen yang berkembang diantara kepala denis dan kulit penutupnya. Dengan terjaganya kebersihan dan berkurangnya kelebaban di daerah kepala penis, menurunkan perkembangan bakteri dan jamur pada daerah tersebut. Maka hal ini kaitannya berhubungan dengan kesehatan organ reproduksi bagian luar. Alasan Kesehatan dan kebersihan ini mencapai 50 pesen lebih.
Alasan berikutnya adalah tradisi, untuk alasan ini saya mendapat konfirmasi terutama dari temen-temen suku Jawa dan Nias, mereka melakukan sunat ini dengan alasana tradisi, apapun agama mereka, hampir semua laki-laki dari kedua suku ini menjalani proses ini.
Berikutnya ditempati alasan alasan kesehatan lain, yang lebih bersifat perngobatan. Umumnya, karena adanya perekatan kulit penis ata disebut phimosis. PAda responden yang mengalami ini, umunya mereka melakukannya disaat masih kecil karena rekomendasi dari dokter. Ada juga yang melakkannya karena terjadinya infeksi di usia dewasa, kemudian setelah sembuh memutuskan untuk melakukan sunat.
Hampir setengah responden juga menjawab tidak melakukan sunat, namun pada umumnya kulit penutupnya tidak mengalami pelekatan dengan kepala penis, sehingga bisa ditarik ke arah belakang dan membuat kepala penis terbuka seluruhnya. Keadaan ini membuat kaum pria yang tidak disunat tetap bisa membersihkan. Hanya saya untuk proses pembersihannya memang lebih mudah ketika sudah disunat.
Sedangkan responden yang tidak memberi tanggapan, kemungkinan besar memang tidak menjalani sunat, dan mereka malu untuk merespon. Biarlah ini menjadi bagian dari jawaban responden. Kita perlu menghargai pendapat mereka.
Jadi untuk pria non muslim, pilihat ada di tangan Anda, ma bersnat atau tidak, yang terlebih penting adalah menjaga kebersihan organ reproduksi Anda.

Terima kasih telah berbagi informasi, artikel yang sangat bagus, semangat terus untuk menyebarkan kebaikan, kalau di dalam sejarah Islam dalam pengertian umat nabi Muhammad sunat itu diajarkan sebelum jaman nabi Muhammad, yaitu jaman nabi Ibrahim, mungkin di kalangan umat Kristen dan Protestan disebut Abraham, artinya nabi Muhammad hanya melanjutkan risalah saja. Sekali lagi Terima kasih telah berbagi informasi yang menarik
BalasHapusTerima kasih atas tanggapan dan informasi tambahannya.
HapusMantap luarbiasa artikel bapak, sangat baik untuk kesehatan jasmani dan rohani
BalasHapusTerima kasih Pak Ahmad
HapusKeren Ko...
BalasHapusBanyak penelitian-penelitian oleh pakar kesehatan tentang Islam ni, Ko. Salah satunya tu masalah khitan ini. Yang lainnya, seperti Stretching atau peregangan otot yang paling sempurna itu adalah gerakan sholat, asal dilakukan dengan sempurna.
Thanks Ko.. sudah berbagi...!
Terima kasih Pak Alfred
Hapusterima kasih
BalasHapusbuat sodara ane yg nonis, lakukanlah sunat biar sehat, yg penting jgn diulang2, cukup sekali saja. wkwk..
BalasHapussiap. Terima kasih
HapusWah. Bener ini ya? Pengetahuan baru nih buat saya.
BalasHapusdataanya yang saya dapat sejauh ini dari responden seperti ini
HapusKebanyakan saran dari dokter ya
BalasHapusBetul pak, dan alasan kesehatan
HapusTernyata tinggi juga persentase kalangan yang tidak wajib sunat tapi melakukannya untuk menjaga kebersihan alat kelamin.
BalasHapusYes bro, banyak juga yang sudah sadar akan kebersihan organ reproduksinya
HapusDengan di khitan bisa menjaga kebersihan & kesehatan alat reproduksinya.
BalasHapusiya Pak Sigid, setuju
HapusKalau disunat bisa lebih mudah merawat kebersihan tinggal thurr air sudah bersih sendiri. Dan nampaknya lebih indah
BalasHapusiya, lebih mudah membersihkannya
HapusMantap, kang... Lanjutkeun 😍👍
BalasHapusSiap
HapusSunat dipahami secara berbeda oleh penganut muslim dan non muslim. Benang merahnya adalah sunat itu baik dan positif.
BalasHapusTerima kasih at as komentar nya
Hapus