TARIAN
KEHIDUPAN
Saya seorang pria yang TUHAN anugrahi talenta
untuk menari, hingga hari ini masih di dunia tarian, sebelum terjun di dunia tari,
saya sempat melayani TUHAN sebagai guru sekolah minggu. Saya juga pernah
mencoba berlatih alat musik di antarnya gitar dan keyboard, namun tidak ada yang
bisa saya ikuti dengan baik, tetapi TUHAN membawa saya untuk menekuni
tarian. Awalnya saya sempat protes kepada TUHAN. “Mengapa Engkau memberi saya
talenta seperti ini. Saya ini seorang pria, kan jadi kelihatan gak "macho", malah mungkin jadi
keliatan agak ‘feminim’” . Namun ternyata
semakin saya mendalami tarian, perlahan saya semakin mengerti maksud TUHAN.
Saya dibawa untuk membawa visi perubahan, untuk membawa kembali seni tari bagi
kemulian TUHAN. Dan setelah saya mengetahui bahwa raja Daud yang gagah berani
menghadapi peperangan dapat melakukan tarian saat tabut TUHAN akan di pindahkan
dengan berpakaian Efod dari kain lenan
(II Samuel 6 : 14-16), Maka pandangan saya tenang tarian berubah, sampai gambar diri saya pun dapat berangsur-angsur
pulih sebagai seorang pria seutuhnya.
Saat ini saya juga bersyukur karena
TUHAN mau memberikan saya anugerah pengertian akan tarian. Karena ternyata dalam
setiap perayaan bangsa
Adapun pengertian yang saya dapat dan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari :
Pertama, memberitakan isi hati TUHAN. Setiap
tarian yang dibuat memiliki makna dan pesan tertentu, demikian juga tarian bagi
TUHAN. Misal kedua belah tangan diangkat keatas membentuk huruf “V” memiliki
arti menyembah TUHAN dan dpat juga melambangkan kemenangan. Sehingga setiap penari bisa
disebut "nabi TUHAN" karena membawa pesan TUHAN yang ingin
disampaikan pada Jemaat melalui gerakan tarinya. Pencerminannya dalam kehidupan
sehari-hari kita sebagai anak TUHAN, gerakan kita, tingkah laku, pembicaraan
kita sebaiknya memberitakan isi hati TUHAN, sehingga lingkungan disekeliling
kita dapat melihat dan merasakan TUHAN melalui kehidupan kita. Kita menjadi “kitab
yang terbuka”
Kedua, mengikuti perubahan. Setiap
penari tentu merasakannya, bahwa ketika kita menari, kita harus mengikuti irama alunan musik. Jika musik
yang diiringi memiliki tempo (beat) yang cepat, maka tidaklah serasi jika penari
bergerak dalam tempo lambat. Jadi bila tarian kita tidak sesuai alunan musik, maka
performance kita akan terlihat tidak serasi. Gerakan penari harus mengikuti
irama musik, namun tidak keluar dari aturan-aturan tari yang telah ditetapkan.
Demikian juga dengan hidup kita. Kita perlu mengikuti perubahan yang terjadi di
sekeliling kita sesuai dengan irama perubahan tersebut -bukan berarti sama dengan dunia- tetapi tetap
di dalam koridor “berjalan di dalam kebenaran Firman TUHAN”. Di jaman yang
serba canggih dan perubahan yang bergerak begitu cepat, kita perlu langkah
penyesuaian agar kita tidak tergerus oleh perubahan jaman. Kita perlu berubah
selaras dengan tempo perubahan jaman, dengan tetap berpegang pada kebenaran
Firman TUHAN.
Ketiga,
Kelembutan. Dalam tarian, penari akan berusaha menampilkan kelembutan dari
setiap gerakan. Meliuk mengikuti irama musik, menampilkan kelenturan tubuh
hasil tempaan dari latihan berulang-ulang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita
menjalani latihan bersama TUHAN untuk menampilkan kelembutan kasih TUHAN. Dalam
hati mungkin kita sudah jengkel, kesal, dan geram, namun dengan latihan yang
mau kita jalankan bersama TUHAN, kita dapat memancarkan kelembutan kasih
KRISTUS. Dengan latihan dan pengalaman bersama TUHAN, kita dapat memaafkan
orang yang membuat kita kesal padahal kita tidak berbuat salah terhadapnya.
Dapat menahan emosi ketika anak kita mungkin menjengkelkan. Latihan kelembutan
hati ini biasanya tidak selesai melalui satu perkara. Diperlukan perkara lain hingga
kita benar-benar lembut. Nikmatilah prosesnya, seperti tukang periuk membentuk
periuk, bila belum sesuai dengan keinginannya,
dia akan membentuk ulang hingga sesuai dengan yang dia inginkan. Demkian
juga para penari untuk mendapatkan kelenturan tubuh yang sempurna diperlukan
latihan berulang kali.
Keempat,
Kekuatan. Dalam menari sebenarnya gerakan lembut itu memerlukan kekuatan, tenaga, dan latihan yang keras
sebelumnya, sehingga didapat gerakan yang lembut. Gerakan penari bukan dari
hasil sekali latihan namun hasil dari latihan berulang-ulang yang dilakukan dengan
tekun. Ketika kita mewarnai dunia ini dengan
kelemahlembutan kasih Kristus, kita perlu tetap kuat berakar dalam kebenaran
FIrman TUhan. Dan hal ini didapat dari proses belajar terus bersama TUHAN.
Menarilah seirama Firman TUHAN dalam
menjalani dan mewarnai kehidupan ini. TUHAN memberkati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar