Cari Blog Ini

Jumat, 10 Februari 2023

Inspirasi untuk Meraih Gelar Sarjana

 Inspirasi untuk meraih gelar Sarjana

flayer Kamis Menulis Komunitas Lagerunal

Orang tuaku yang sejak kecil dididik di sekolah mandarin, namun sejak terjadi pergolakan politik di tahun 1960-an. Semua sekolah yang tidak menggunakan bahasa Indonesia mengalami penutupan operasional. Maka, mereka dan generasinya mengalami kesulitan untuk melanjutkan sekolah. Beberapa memang  bisa menajutkan pendidikan di sekolah berbahasa Indonesia. Namun kedua orang tua saya tidak dapat melakukannya, karena faktor ekonomi dan birokrasi.

Pendidikan yang mereka tempuh saat sekolah ditutup itu setingkat SMP. Dengan pedidikany ang tidak terlalu tinggi ini, mereka bisa memiliki daya juang yang luar biasa.Mereka menjadi inspirasi saya, saya saya terus harus berjuang merintis jalan pendidikan saya meraih gelar sarjana. Mewujudkan salah satu impian mereka adalah memberikan pendidikan yang cukup bagai anak mereka. Bahkan lebih tinggi dari yang mereka dapat. Mungkin ini bukan hanya impian orang tua kami, tapi hampir semua orang tua mendambakan hal tersebut. 

Kami dua bersudara dibesarkan dengan pola asuh yang sedikit berbeda. Dengan selilih usia 6 tahun, sejak di bangku Sekolah Dasar dan ayah, mungkin sudah melihat bakat saya, dia tidak mengizikna saya membantunya di bengkel sepeda tempat dia berusaha.  Beberda dengan adik saya yang diperbolehkan membantunya sampai kadang kotor dengan oli. Pernah di sat masa kami saling iri satu dengan yang lain karena merasa dibedakan.

Saat ini ketika direnungkan, ternyata pengalamanan mengajarkan mereka cara membesarkan kami berdua dengan potensi,ketertarikan, karakter dan talenta kami yang berbeda. Saya pribadi dengan meiliki tingkat pendidikan lebih tinggi belum tentu bisa melihat potensi anak saya sebaik ayah saya melihat potensi kami berdua.

Saat lulus dari SMP, sempat terpikir untuk mencari kerja setelah lulus kuliah, karena saya memahami kondisi orang tua. Bahkan sempat setelah SMP saya mau melanjutkan ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA). Karena itu salah satu bidang yang saya sukai dan berharap setelah lulus dapat langsung bekerja.

Namun, akhirnya saya malah melanjutkan ke SMAN terbaik di kota Sumedang, yaitu SMAN 1 Sumedang. Dan kemdian menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran. Tadinya saya sempat menyerah dalam menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi. 

Dengan dukungan yang mereka berikan dan didukung keinginan untuk meningkatkan derajat keluarga, akhirnya saya dapat menyelesaikan pendidikan sarjana saya dan lulus dengan IPK 3,22. Memang tidak mendapat predikat Cumlaude, namn setidaknya saya telah membuktikan perjuangan saya sampai meraih gelar Sarjana Pertanian.  

Dukungan yang mereka berikan dalam keterbatasan pendidikan mereka, lebih dirasakan dalam bentuk duakungan doa dan semangat. Mereka terus mendorong saya untuk berkembang, dan mengusahakan yang terbaik bagi kami.  Salah satu contohnya, adalah selalu menyediakan biaya saya untuk berangkat kuliah yang berjarak kurang lebih 35 Km. Entah bagaimana cara mereka bisa menyediakannya meski saya mengetahui bengkel dan warung dalam kondisi tidak baik.. 

Inspirasi yang bisa saya dapat, keterbatasan tingkat pendidikan ternyata tidak mempengaruhi pola asuh. Pelajaran kehidupan yang membentuk mereka menjadi sosok yang luar biasa bagi kami anak-anaknya. Orang mungkin hanya melihat mereka sebagai ornag tua bisa yang bekerja sebagai montir sepeda dan seorang ibu yang membantu ekonomi keluarga dengan membuka warung kecil disamping bengkel.

Bagi kami, anaknya kenangan yang mereka tinggalkan merupakan pendidikan kehidupan dan sumber inspirasi bagi kami dalam menjalani kehidupan ini. Kedua tokoh yang menjadi inspirasi bagi kami. 

2 komentar:

Tawanan Fatamorgana

Tawanan Fatamorgana Karya : Sim Chung Wei Melayanag dalam khayal melambungkan jiwa penuh warna mahligai hidup dan ajal laksana menuju nirwan...