Cari Blog Ini

Sabtu, 21 Desember 2024

Gara-gara salah jawab

Koh Akong yang baru pindah ke sebuah desa kecil di Jawa Barat, karena usaha perdangananya sebelumnya di kota mengalami kerugian. Roda ekonomi tidak selalu berjalan mulus, untungnya dia masih jomblo jadi tidak terlalu terbeban dengan biaya keluarga. Dia memutuskan untuk  pindah ke sebuah desa untuk kembali memulai usaha berjualannya.

Pada Umumnya pria di kampung tersebut menggunakan sarung dalam kesehariannya. Karena memang mayoritas bahkan hampir semuanya Muslim, kecuali ko Ahong sebagai pendatang.

Dalam rangka beradaptasi dan berbaur, salah satunya dengan menyamakan busana yang dipakai warga sekitar

Sebagai pendatang, Koh Ahong berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan budaya dan kebiasaan warga setempat. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti gaya busana warga. Setiap pagi, ia memperhatikan lelaki-lelaki desa yang tampak santai mengenakan sarung, baik di warung kopi maupun saat berjalan-jalan di sekitar masjid.

“Kalau mereka pakai sarung, aku juga pakai sarung!” pikir Koh Ahong dengan penuh semangat. Ia pun membeli beberapa kain sarung dari toko grosir di pasar.

Hari pertama Koh Ahong memakai sarung, ia merasa agak kikuk. Namun, ia yakin ini langkah tepat untuk mendekatkan diri dengan warga desa. Dengan bangga, ia berdiri di depan tokonya sambil memamerkan sarung barunya yang bermotif hijau dengan garis-garis kuning mencolok.

Suatu siang, seorang bapak tua lewat di depan tokonya sambil membawa sekarung hasil panen. Ia melirik Koh Ahong yang berdiri dengan penuh percaya diri, lalu tiba-tiba bertanya, “Baru sunat, Koh?”

Pertanyaan itu membuat Koh Ahong terkejut. Ia sempat bingung harus menjawab apa. Karena gugup dan tidak ingin terlihat aneh, ia spontan menjawab, “I... iya, Pak!”

Bapak tua itu tersenyum lebar dan melanjutkan perjalanannya. Koh Ahong menghela napas lega, mengira masalah selesai di situ. Namun, ia tidak tahu bahwa jawaban polosnya itu menjadi awal dari sebuah kabar burung yang menyebar lebih cepat dari kilat.

Keesokan harinya, warga desa ramai membicarakan Koh Ahong.

“Eh, dengar-dengar Koh Ahong baru sunat, lho!” bisik seorang ibu kepada tetangganya.

“Iya, katanya itu tanda dia mau masuk Islam!” jawab tetangganya dengan antusias.

“Koh Ahong masuk Islam? Wah, pasti dia mau serius jadi orang desa!” sambung yang lain.

Koh Ahong tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi perbincangan hangat. Pagi itu, ia tetap memakai sarung dan kembali membuka tokonya seperti biasa. Namun, ia mulai merasa ada yang aneh ketika semakin banyak warga yang mampir hanya untuk menyapanya dengan ucapan selamat.

“Selamat ya, Koh. Semoga berkah!” kata seorang pemuda.

“Wah, hebat sekali, Koh! Pasti keputusan yang berat, ya?” ucap yang lain dengan nada kagum.

Koh Ahong hanya tersenyum bingung sambil mengangguk-angguk. Dalam hati, ia bertanya-tanya, “Apa maksud mereka? Berkah apa? Keputusan apa?”

Puncaknya terjadi saat kepala desa datang berkunjung. Dengan senyum lebar, ia memeluk Koh Ahong dan berkata, “Selamat bergabung, Koh. Kalau butuh bimbingan, bilang saja ya.”

Barulah Koh Ahong menyadari sesuatu. Ia menelan ludah dan dengan hati-hati bertanya, “Pak Kades, ini maksudnya apa, ya?”

Kepala desa menjelaskan kabar yang beredar bahwa pendudk mengira Koh Ahong baru menjadi Mualaf, dan Koh Ahong langsung tersadar bahwa semuanya berawal dari jawaban “iya” yang ia ucapkan kemarin.

Karena memang beberapa bulan lalu dia baru melaksanan sunat, tetapi sekarang sudah sembuh dan bukan karena menjadi mualaf tapi untuk kesehatan dan kebersihan.
“Waduh... jadi begini, Pak Kades...” Koh Ahong menjelaskan dengan kikuk.
" dan ini sarung yang saya pakai ini, sarung waktu saya sunat waktu itu" lanjut koh Ahong


Setelah mendengar penjelasan Koh Ahong, kepala desa tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Jangan khawatir, Koh. Ini cuma salah paham kecil. Tapi, saya sarankan lain kali jangan asal jawab kalau ditanya warga, ya!”

"Iya pak" Jawab koh Ahong

"Dan saya juga perlu memberi penjelasan kepada warga untuk tidak cepat mengambil kesimpulan."

Sejak saat itu, Koh Ahong menjadi sosok yang dikenal di desa, bukan hanya karena tokonya, tetapi juga karena cerita lucu yang terus dikenang warga. Setidaknya, ia berhasil mencairkan suasana dan merasa benar-benar diterima sebagai bagian dari komunitas desa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tawanan Fatamorgana

Tawanan Fatamorgana Karya : Sim Chung Wei Melayanag dalam khayal melambungkan jiwa penuh warna mahligai hidup dan ajal laksana menuju nirwan...