Pengalaman Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus
Pengalaman
mendaftarkan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) menjadi
pengalaman tersendiri bagi kami. Pengalaman unik yang mungkin tidak
semua orang dapat membayangkannya apalagi merasaknnya.
Tahun
Ajaran 2025-2026 menjadi tahun pertama untuk anak kami bersekolah. Meski
saat ini sudah berusia 8 tahun menjelang 9 tahun, kami baru
mendaftarkannya untuk bersekolah di sekolah formal.
Bukan kami
tidak mementingkan Pendidikan, tetapi banyak pertimbangan yang membuat
kami untuk berpikir. Membuat keputusan mendaftarkan anak untuk sekolah
bukanlah tanpa pertimbangkan. Salah satu pertimbangan selain biaya
adalah jarak, kami yang tinggal saat ini di daerah Jakarta Utara, dan
sekolah yang bisa mengakomodir kebutuhan anak kami ada di daerah Jakarta
Selatan.
Bersyukur, sejak tahun lalu, kami mendapat informasi bahwa perprov DKI Jakarta menyediakan Bus sekolah khusus yang mengantarkan anak-anak seperti anak kami menuju sekolah yang berada di bawah naungan YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) yanng memiliki SLB-D. Bus ini dilengkapi dengan semacam lift dibagian pintu tengahnya yang memudahkan untuk membawa anak-anak yang masih memerlukan bantuan kursi roda dalam geraknya.
Bus Sekolah Gratis Khusus untuk penyandang disabilitas-dokpri
Dengan
adanya bus sekolah ini, kami sangat membantu transportasi anak kami
menuju sekolah, selain memang transportasi umum di Jakarta masih kurang
nyaman bagi penderita disabilitas. Meski kapasitasnya masih terbatas,
tetapi untuk saat ini masih dirasakan cukup membantu memfasilitasi
anak-anak dengan keterbatasan gerak untuk bersekolah.
Bus yang
ada saat ini memang dikususkan untuk para anak dengan keterbatasan gerak
(tuna Daksa) yang bersekolah di SLB_D. Adapun pengelompokan Sekolah
Luar Biasa (SLB) berdasarkan laman situs Ditjen Vokasi Pendidikan Khusus
dan Pendidikan Layanan Khusus.
1. SLB-A merupakan SLB yang
khusus untuk penyandang tunanetra. Tunanetra sendiri merupakan kondisi
seseorang mengalami hambatan dan keterbatasan dalam indera
penglihatannya.
2. SLB-B khusus ditujukan untuk penyandang
tunarungu. Pembelajaran di sekolah ini ditujukan bagi penyandang
tunarungu agar dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan bagaimana
membaca gerakan bibir lawan bicaranya.
3. SLB-C khusus ditujukan
untuk penyandang tunagrahita. Tunagrahita sendiri merupakan kondisi
keterbelakangan mental atau sering disebut juga sebagai retardasi
mental, di mana IQ penyandang tunagrahita biasanya berada di bawah
rata-rata.
4. SLB-D khusus ditujukan untuk penyandang tunadaksa,
yakni mereka yang mengalami gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan
struktur tubuh yang bersifat bawaan, kecelakaan, atau kondisi lainnya.
5.
SLB-E khusus ditujukan untuk penyandang tunalaras. Tunalaras merupakan
kondisi seseorang anak mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi
dirinya dan bertingkah laku kurang sesuai dengan aturan.
6. SLB-G
hadir untuk penyandang tunaganda. Tunaganda merupakan kondisi seseorang
yang memiliki dua atau lebih kelainan pada dirinya misalnya tunanetra
sekaligus tunarungu, tunanetra sekaligus tunalaras, dan lain sebagainya
Anak
kami yang terkena meningitis (infeksi selaput otak) membuatnya
mengalami Cerebral Palsy. Dengan kondisinya seperti ini membuat sulit
mengkoordinasikan gerak badannya, berkomunikasi dan semua kemampuan
asarnya terhambat, karena infeksi pada salaput otak yang pernah dia
alami saat berusia 6 bulan.
Berdasarkan keterbatasan yang dialami
putri kami, dan berkonsultasi dengan berbagai pihak, akirnya kami
mendaftarkanya ke SLB-D. Di Bawah naungan Yayasan Pendidikan Anak Cacat
(YPAC), putri kami diterima sebagai murid TKLB-A.
Tingkat TK ini
memang dipersiapkan untuk membiasakan murid ABK untuk menyesuaikan diri
dan mempersiapkan merka untuk lanjut di SDLB.
Mata pelajaran yang dilaksanakanpun berbeda dari TK pada umumnya.Jadwal Pelajaran TKLB SLB-D 2025/2025
Mereka
lebih difokuskan untuk mempersipkan diri untuk mandiri, mengoptimalkan
sensorik, mengatur sosial-emosional, dan menyesuaikan dalam
pembelajaran. Jika dilihat secara langsung memang seperti usaha
menjaring angin, tetapi setiap orang tua terntu memiliki harapan
tersendiri untuk buat hatinya, bagaimanapun kondisi mereka sat ini.
Sedikit
pengalaman ini semoga dapat memperluas wawasan dan memberikan gambaran
bagaimana para orang tua dan juga ABK berjuang menghadapi tantangan
kehidupan etiap hari mencari harpaan untuk hidup yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar