Dulu Guru dan Siswa, Sekarang Pasien dan Dokter Gigi
Seminggu lalu saya sudah bertemu kembali dengan seorang pemuda yang beberapa tahun lalu adalah murid saya di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat ini , tahun 2026, dia sedang menjalankan pendidikan profesi dokter gigi di Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSKGM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Minggu lalu dia melakukan pembersihan karang gigi ( scaling). Dan dia menemukan ada gigi saya yang berlubang dan sebaiknya dicabut.
Maka hari ini, Kamis, 9 Juli 2026, saya datang kembali ke Kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Bertemu kembali dengan calon dokter gigi ini, untuk pencabutan gigi. Dan tentunya kita sudah berkomunikasi sebelumnya lewat pesan singkat di telepon genggam.
Berfoto sebelum tindakan (dokpri)
Saya pun mengambil nomor antrean, setelah sebelumnya memarkir motor di area yang cukup jauh. Jadi saat menuju lobi, saya berjalan agak cepat agar tidak terlambat. Karena memang tadinya sudah diberitahukan kalau saya sebaiknya sudah sampai pukul 8 pagi.
Bersyukur saya masih bisa menenangkan diri setelah jalan agak cepat, dan saat pemeriksaan awal, tekanan darah cukup normal, 120/81. Selain itu, saya juga tidak memperhitungkan rasa takut akan pencabutan gigi. Bermodalkan rasa percaya terhadap siswa saya, saya pun menjalankan prosedur pemeriksaan dan tindakan dengan santai. Malah saya cukup berani dengan membuka mata saat dilakukan tindakan. Biasanya saat saya ke dokter gigi dan akan dilakukan tindakan saya kan menutup mata, untuk menghilangkan rasa takut ketika melihat perlatan yang digunakan.
Jujur, karena saya percaya dengan kemampuan siswa saya ini, saya berani membuka mata saya saat dilakukan tindakan. Dari cara tangannya yang memegang alat, saya dapat melihat bahwa dia juga melakukannya dengan percaya diri; tidak ada sedikit pun gerakan gemetar karena rasa ragu.
Saat menyuntikkan anestesi, juga cukup terampil, lalu ke tahap berikutnya membuka ruang untuk gigi yang akan dicabut, dilakukannya dengan terampil. Namun, saat dia mencabut, terjadi sedikit kendala: mahkota gigi yang akan dicabut sudah tinggal sedikit, sehingga dia cukup kesulitan untuk mencengkeram dan menariknya. Setelah berhasil dicabut, ternyata ada akar gigi yang tertinggal, sehingga harus dilakukan tindakan operasi kecil. Saat itulah saya sudah mulai merasa panik, karena ini kali pertama saya akan menjalani operasi di mulut meski hanya operasi kecil (minor).
Dan bersyukur, dokter pengawas di ruang itu membantu dengan mengambil alih tindakan pencabutan akar gigi yang tertinggal. Kembali saya merasa tenang, tetapi itu ternyata bukan akhir, Saya malah merasa tegang saat mendengar suara bor gigi yang digunakan dokter saat tindakan pencabutan akar gigi. Panik yang menjalar membuat saya memilih menutup mata, meski tidak ada rasa sakit, Suara bor gigi ini menjalar menjadi rasa panik dan takut.
Setelah selesai, dokter meminta mantab siswa saya ini untuk melakukan penjahitan di gusi, dengan termapil dia dapat menjahit gusi saya. Dokter pengawas memberikan sedikit panduan agar tangannya dapat bergerak dengan lebih efisien. Dan setelah selesai tindakan penjahitan gusi ini, saya merasa lega, hilang semua rasa takut.
Apalagi setelah dokter yang mengawasi siswa saya ini memberi komentar " Itu bagus hasil jahitnya". Dalam hati muncul rasa bangga dan senang. Dan gigi berlubang saya, dapat memberikan pengalaman bagi siswa saya dalam melakukan tindakan yang cukup sulit. Berharap di kemudian hari ketika dia nanti sudah menjadi dokter gigi yang luar biasa, dia dapat menangani berbagai permasalahan pencabutan gigi, karena dia sudah pernah mengalami dan menangani kasus yang sulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar