Duta Suara Hati
Setelah pulang Ibadah hari Minggu, 20 April 2025, kami mengujungi sebuah pusat perbelanjaan di daerah Kelapa Gading. Hanya untuk jalan-jalan tanpa ada tujuan membeli apa pun.
Seperti biasa, jika saya bersama keluarga ke pusat perbelanjaan, saya menyempatkan diri berkeliling di toko buku. Hal ini saya lakukan biasanya untuk menstimulasi tema atau ide dalam pikiran saya saat menulis.
Pada kesempatan itu, saya bersama Sera yang duduk di kursi roda, berkeliling di sebuah toko buku ternama. Tak lama, kami bertemu dengan seorang gadis yang juga duduk di kursi roda bersama ibu dan saudara perempuannya. Gadis itu duduk di kursi roda bermesin yang dapat dikendalikan oleh tangannya. Pada bagian pegangan kursi itu terdapat panel kecil yang membantu orang yang duduk memberikan instruksi pergerakan kursi itu.
Setelah berbincang ringan, saya bertanya, “Kakak sekolah di mana?” karena memang kami juga sedang bimbang untuk mendaftarkan Sera ke sekolah. Kemudian dia menjawab di sebuah home schooling. Saya sempat heran, kemudian bertanya” bisa yah?”, dia jawab “bisa, karena dia datang ke sekolah kalau ada ujian aja.”
Saya kemudian, sedikit mencurahkan isi hati saya kepada ibu anak tersebut tentang pandangan orang lain terhadap anak kami yang berkebutuhan khusus.
Gadis itu berkata”Jika dia juga bisa bicara, tentu dia akan bilang dia juga tidak mau dalam kondisi seperti ini.”
Kalimat ini menyadarkan saya bahwa apa yang anak kami alami itu juga bukan kemauannya. Dan tentu hal ini terjadi atas izin Tuhan, bukan juga karena kesalahan atau dosa kami.
Belajar untuk menerima kenyataan ini memang tidak mudah, bukan seperti membalikan telapak tangan.
Dan bukan sebuah kebetulan kalau saya tertarik untuk membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Buku ini memberi pencerahan, bagaimana seharusnya saya merespon terhadap keadaan yang tidak dapat kita kendalikan, seperti opini orang, kesehatan, dan sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar