Penghasilan Pertama dari Novel Online
Mentari pagi belum memperlihatkan mukanya, tubuh Rendi masih terbaring lelah di pangkalan ojek. Tubuhnya terasa lelah tadi malam setelah menarik penumpang yang cukup jauh, dan masih mencoba menulis lanjutan novelnya. Sendi-sendi terasa ngilu, otot tegang dan badan tidak bertenaga. Seolah semuanya terserap ke dalam lubang hitam hampa.
Beberapa bulan belakangan, dia mengikuti kursus menulis online dan mencoba mempraktikkan keterampilan menulisnya pada sebuah novel. Hal ini dia lakukan karena memang dia tertarik untuk menulis dan karena usahanya dalam mencari penghasilan tambahan. Ijazah S1-nya dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang awalnya dia banggakan, sekarang masih tersimpan rapi di lemari-nya. Lulus dengan predikat cum laude, tidak serta-merta membuatnya mudah memperoleh pekerjaan. Dengan berat hati, untuk sementara dia menjadi pengemudi ojek online, daripada menganggur dan menjadi beban keluarga. Penggumulan yang cukup berat dalam batin membuatnya beberapa kali sempat akan mengurungkan niatnya menjadi pengemudi ojek online. Karena ada rasa malu dalam dirinya.
Setelah acara wisuda, ketika dia tetap berada di rumah, tetangga mulai membicarakannya. Pembicaraan ini, meski tidak langsung sampai ke telinganya, tetap membuat hatinya terluka. Namun, dengan pikirannya yang masih waras, dia menjadikan itu sebagai motivasi untuk tetap berusaha, salah satunya dengan menulis dan terus meningkatkan keterampilannya.
Realita di negeri ini membuat dirinya harus menjadi pengemudi online untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak lulusan sarjana tidak mendapatkan pekerjaan, termasuk dirinya, dari sekian juta pemuda lainnya yang bergelar sarjana di negeri ini. Sebuah ironi di mana dulu bangsa Eropa mengenal negeri ini sebagai negeri yang subur dan kaya akan kekayaan alamnya, tetapi rakyatnya jauh dari kata sejahtera. Kaum yang menikmati kekayaan alam bumi ini, hanya beberapa golongan saja, tidak merata dan adil.
Sambil melepas lelah dan menunggu orderan, dia membuka aplikasi novel online, dan menambahkan satu bab lagi. Beberapa hari lalu novelnya dimuat di aplikasi tersebut, dan ia berusaha mengunduh setiap babnya dengan konsisten dan teratur. Dia sempat tidak percaya, apakah mimpi atau kenyataan. Di bagian pendapatan terpampang angka 500 ribu rupiah, awalnya dia mungkin ini 50 ribu rupiah. Setelah mencoba memperjelas angka di layar sambil mengucek matanya, dia bangun dari posisi rebahnya. Dan ternyata benar 500 ribu rupiah. Dia mencoba menarik penghasilannya dan berhasil memasukkannya ke rekeningnya.
Penghasilan ini tiba-tiba memompa semangatnya untuk kembali bekerja, dan meneruskan menulis novelnya hingga akhir. Novel tersebut, dia sempat membagikan tautannya kepada teman-teman semasa kuliahnya. Dan ternyata tanpa dia sadari, teman-temannya itu menyebarkan tautan tersebut ke berbagai media, sehingga novelnya banyak dibaca oleh berbagai kalangan.
Tautan Novel Secangkir Kopi di Rumah Pohon
Novel yang dia tulis berdasarkan hasil imajinasi dan bermula dari novel filsafat dunia Sophie karya Jostein Gaarder yang menjadi bestseller internasional. Menang tidak sefenomenal karya novelis terkenal tersebut, tetapi idenya memadukan dunianya dengan novel lain cukup membuatnya sedikit bangga.
Penghasilan yang diperolehnya setiap hari cukup stabil dari menulis novel dan juga menulis artikel, puisi, dan sebagainya. Dan dari pengalaman ini, dia sudah menyiapkan berbagai outline lain yang akan menyusul setelah selesainya novel pertamanya. Dia menjadi lebih percaya diri menjalankan profesinya sebagai pengemudi ojek online sambil tetap menulis.
Hingga tanpa terasa dia juga dapat mengganti motor lamanya dengan motor baru dan dia membelinya secara tunai dari hasil menulis. Dan dengan semangat dan disiplin untuk tetap menulis, Rendi dapat mengangkat taraf kehidupan ekonominya, sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata oleh tetangga dan keluarga besar.