Terjebak Hujan di Halte Bundaran Hotel Indonesia
Rabu, 25 Maret
2026, kami berencana ke daerah pusat kota, tepatnya Bundaran Hotel
Indonesia (HI), dengan tujuan untuk menanyakan kartu Transjakarta untuk
difabel. Pada awal kami memutuskan untuk ke sana, hati kami merasa ragu
karena melihat cuaca yang tidak menentu. Tetapi, selagi bisa karena saat
ini adalah masa liburan sekolah dalam rangka Hari Raya Idul Fitri, kami
pun melaju dengan mengendarai sepeda motor.
Ketika berpergian
seperti ini, memang kami terlihat seperti hendak bertamasya. Di stang
kiri tergantung tas berisi makanan, minuman, mainan, dan beberapa
perlengkapan anak kami. Di antara saya dan stang motor ada tempat untuk
kursi roda yang dilipat, tak lupa dikaitkan dengan tali pengaman pada
kedua sisi spion di stang motor. Saya sebagai pengemudi membawa tas
ransel yang saya gendong menghadap ke depan. Bagian tengah tempat duduk
untuk si cantik putri kami dan di belakang untuk istri tercinta. Jadi
putri kami duduk di antara kami.
Kami tiba di sekitaran Bundara
Hotel HI, memang sudah menjelang sore. Karena sudah lama tidak pernah ke
daerah tersebut, kami pun sedikit kebingungan untuk mencari tempat
parkir motor. Di saat kebingungan ini, kami melihat dua orang petugas
keamanan yang berjaga di luar sebuah gedung. Setelah menepikan motor,
kamipun bertanya kepada petugas keamanan yang kebetulan sedang berjaga
di trotoar. Dengan baik hati, dia mengarahkan kami tentang cara mencapai
Halte HI dan juga tempat parkir motor terdekat.
Singkat
cerita, kami sampai di halte Bundara HI dan mencari petugas untuk
menanyakan perihal kartu yang kami maksud. Ternyata menurut keterangan
dari petugas, kami hanya bisa menanyakan status kartu tersebut dan
belum bisa mencetaknya, dan itu pun hanya di Halte MONAS.
Dari
informasi ini, kami pun berdiskusi sebentar untuk memutuskan akan ke
halte Monas atau naik ke lantai dua Halte Bundara HI yang sedang naik
daun menjadi salah satu tempat foto di Jakarta.
Setelah naik dengan
menggunakan lift, kami melihat dan akhirnya tergoda untuk berfoto di
titik foto tersebut. Karena hari libur, antrean menuju titik foto
tersebut cukup ramai.
Saat mengantre, terlihat juga beberapa
turis mancanegara yang berfoto di lantai dua halte Bundara HI. Ternyata
mereka pun menyukai tempat-tempat estetik dan juga bagi mereka mungkin
ini kesempatan yang langka.
Saat kami mengantre, langit Jakarta
berubah menjadi mendung dan titik-titik air hujan mulai turun. Bersamaan
dengan hujan yang tambah deras, antrean perlahan bubar, termasuk kami.
Kami memilih berteduh di salah satu kedai kopi. Di kedai tersebut, anak
kami makan, saya minum kopi panas sambil membaca buku.
Setelah
hujan reda, kami kembali untuk berfoto, dan akhirnya kami pun memiliki
foto dengan latar patung Selamat Datang yang menjadi ikon Bundaran HI,
dan akhirnya terjadi "mini piknik".
Seorang guru biasa yang mencoba memberikan kontribusi bagi sesama. Menebar kebaikan , berbagi pengalaman dan rasa
Cari Blog Ini
Minggu, 19 April 2026
Terjebak Hujan di Halte Bundaran Hotel Indonesia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tawanan Fatamorgana
Tawanan Fatamorgana Karya : Sim Chung Wei Melayanag dalam khayal melambungkan jiwa penuh warna mahligai hidup dan ajal laksana menuju nirwan...
-
Sering kali proses Khitan atau sunat dihubungkan dengan kewajiaban seorang pria muslim atau saat proses seseorang menjadi muslim (mualaf). ...
-
Akhirnya KTP saya sebagai Guru Terbit Sebagai seorang guru di Indonesia, sepertinya belum lengkap jika belum memiliki NUPTK (Nomer Unik P...
-
Pertemuan kedua, 20 Mei 2022 Writting is My Passion flayer kegiatan Pelatiahn menulis pertemua ke-2 narasmber : Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. m...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar